Di ceritakan ada dua irang pemuda dari kampong yang be;lum pernah ke ibu kota sama sakelai. Kedua pemuda ini bernama Bejo dan Gimo. Bejo dan Gimo akan mengikuti test kerja di sebuah perusahaan tambanG, Mereka apply posisi sebagai sopir. Mereka sudah terbiasa nyupir mobil pak haji di kampung untuk mengantar sayur ke pasar. Mereka ingin punay gaji besar, untuk itu mereka memutuskan ikut test kerja di Jakarta.
Berbekal seadanya mereka naik kereta ke ibu kota. Sampainya di ibu kota mereka menuju hotel tempat mereka akan mengikuti test kerja. Bejo dan parmin mumutuskan untuk naik bisa Damri double decker alias tingkat.
Bejo: Gimo kita naik ke atas aja di bawah banyak orang. Mereka naik ke atas.
Gimo: enak di sini penumpangnya Cuma sedikit.
Bejo: iya enak di sini ( Bis damri mulai berjalan)
Bejo: Mo aku ngeri mo ayo kitav turun aja masak bis enggak ada yang nyopir bisa berjalan sendiri.
Gimo: Iya kita turun aja naik taski aja.
Mereka akhirnya naik taksi menuju hotel tenpat test kerja di lakukan. Ketika mereka sampai hotel, mereka clingukan maklum belum pernah masuk hote besa. Di tanyalah sama satpam jotel yang tinggi besar.
Bejo: Gimo kita naik ke atas aja di bawah banyak orang. Mereka naik ke atas.
Gimo: enak di sini penumpangnya Cuma sedikit.
Bejo: iya enak di sini ( Bis damri mulai berjalan)
Bejo: Mo aku ngeri mo ayo kitav turun aja masak bis enggak ada yang nyopir bisa berjalan sendiri.
Gimo: Iya kita turun aja naik taski aja.
Mereka akhirnya naik taksi menuju hotel tenpat test kerja di lakukan. Ketika mereka sampai hotel, mereka clingukan maklum belum pernah masuk hote besa. Di tanyalah sama satpam jotel yang tinggi besar.
Satpam: Mas mas dari kampong yah, mau ketemu siapa mas?
Bejo: saya mau ikiut test perusahaan anu..
Satpam: o iya mas , mas lurus aja sebelah kiri ada lift, di lantai 11 belas yah.
Bejo: saya mau ikiut test perusahaan anu..
Satpam: o iya mas , mas lurus aja sebelah kiri ada lift, di lantai 11 belas yah.
Bejo dan parming clingukan menuju arah yang di tunjuk pak satpam.
Karena mereka masih bingung mereka beriri di lobi sambil ngeliatin lift.
Karena mereka masih bingung mereka beriri di lobi sambil ngeliatin lift.
Gimo: perasaanku enggak enak jo dengan pak satpam tadi. Mungkin dia mau mencelakakan kita.
Bejo: iya mo dari sorot matanya kayaknya dia curiga ma kita.
Gimo: mungkin kotak itu yang di namakan lift yah.
Bejo; betul itu ada tulisanya.
Gima: tapi jo,.. tadi aku masuk ada orang jawa, rambutnya hitam, matanya hitam kulitnya kuning masuk ke kotak itu. Stelah pintu di tutup tidah berapa lama orangnya kok jadi rambutnya pirang, matanya biru kulitnya putuh kaya orang belanda yah.
Gimo: betul jo aku juga liat. Pak satpam tadi mau mencelakai kita masak kita di susruh masuk kotak itu bisar berubah. Kita lari pulang aja yuk
Bejo: Ayo jangan sampai kita celaka kaya orang tadi.
Bejo: iya mo dari sorot matanya kayaknya dia curiga ma kita.
Gimo: mungkin kotak itu yang di namakan lift yah.
Bejo; betul itu ada tulisanya.
Gima: tapi jo,.. tadi aku masuk ada orang jawa, rambutnya hitam, matanya hitam kulitnya kuning masuk ke kotak itu. Stelah pintu di tutup tidah berapa lama orangnya kok jadi rambutnya pirang, matanya biru kulitnya putuh kaya orang belanda yah.
Gimo: betul jo aku juga liat. Pak satpam tadi mau mencelakai kita masak kita di susruh masuk kotak itu bisar berubah. Kita lari pulang aja yuk
Bejo: Ayo jangan sampai kita celaka kaya orang tadi.